|
BAB VII |
|
OBLIGASI DAERAH |
|
Bagian Pertama |
|
Umum |
|
Pasal 21 |
|
Penerbitan Obligasi Daerah wajib memenuhi ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini beserta peraturan pelaksanaannya serta mengikuti peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. |
|
Pasal 22 |
|
Penerbitan Obligasi Daerah hanya dapat dilakukan di pasar domestik dan dalam mata uang Rupiah. |
|
Pasal 23 |
|
Obligasi Daerah merupakan efek yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah dan tidak dijamin oleh Pemerintah. |
|
Penjelasan: |
|
Mengingat Obligasi Daerah merupakan Efek yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah dan tidak dijamin oleh Pemerintah, maka Obligasi Daerah bukanlah tergolong dalam Surat Utang Negara. |
|
Yang dimaksud dengan “Efek” adalah Efek sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal. |
|
Pasal 24 |
|
Nilai Obligasi Daerah pada saat jatuh tempo sama dengan nilai nominal Obligasi Daerah pada saat diterbitkan. |
|
Penjelasan: |
|
Pasal 25 |
|
Penerbitan Obligasi Daerah hanya dapat dilakukan untuk membiayai investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. |
|
Penjelasan: |
|
Pasal 26 |
|
Penerimaan dari investasi sektor publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, penggunaannya diprioritaskan untuk membayar pokok, bunga, dan denda Obligasi Daerah terkait. |
|
Pasal 27 |
|
Pembayaran pokok, bunga, dan denda atas Obligasi Daerah dianggarkan dalam APBD sampai dengan Obligasi Daerah dinyatakan lunas. |
|
Pasal 28 |
| Setiap perjanjian pinjaman Obligasi Daerah sekurangkurangnya mencantumkan: |
|
Penjelasan: |
| a. | nilai nominal; |
|
Penjelasan: |
|
| b. | tanggal jatuh tempo; |
|
Penjelasan: |
|
|
Tanggal jatuh tempo tersebut dapat meliputi tanggal jatuh tempo pembayaran pokok maupun pembayaran bunga. |
|
| c. | tanggal pembayaran bunga; |
| d. | tingkat bunga (kupon); |
|
Penjelasan: |
|
| e. | frekuensi pembayaran bunga; |
| f. | cara perhitungan pembayaran bunga; |
| g. | ketentuan tentang hak untuk membeli kembali Obligasi Daerah sebelum jatuh tempo; dan |
|
Penjelasan: |
|
| h. | ketentuan tentang pengalihan kepemilikan. |
|
Bagian Kedua |
|
Prosedur Penerbitan Obligasi Daerah |
|
Pasal 29 |
| (1) |
Rencana penerbitan Obligasi Daerah disampaikan kepada Menteri Keuangan dengan terlebih dahulu mendapatkan persetujuan DPRD dengan memperhatikan ketentuan dalam Pasal 20. |
|
Penjelasan: |
|
|
Persetujuan Komisi DPRD dimaksud dipergunakan dalam penyampaian rencana penerbitan obligasi kepada Menteri Keuangan. |
|
|
Persetujuan DPRD atas semua Obligasi Daerah yang diterbitkan secara otomatis merupakan persetujuan atas pembayaran dan pelunasan segala kewajiban keuangan di masa mendatang yang timbul dari penerbitan Obligasi Daerah. |
|
| (2) |
Persetujuan DPRD mengenai rencana penerbitan Obligasi Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pembayaran pokok dan bunga yang timbul sebagai akibat penerbitan Obligasi Daerah dimaksud. |
|
Penjelasan: |
|
| (3) | Penerbitan Obligasi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. |
|
Penjelasan: |
|
|
Peraturan Daerah dimaksud ditetapkan dengan persetujuan pleno DPRD. |
|
|
Persetujuan Pleno DPRD dimaksud dipergunakan sebagai syarat penandatanganan perjanjian pinjaman. |
|
| (4) |
Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan atas nilai bersih maksimal Obligasi Daerah yang akan diterbitkan pada saat penetapan APBD. |
|
Penjelasan: |
|
| (5) |
Selain memberikan persetujuan atas hal-hal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4), DPRD memberikan persetujuan atas segala biaya yang timbul dari penerbitan Obligasi Daerah. |
|
Penjelasan: |
|
| (6) |
Ketentuan mengenai tatacara penerbitan, pelaksanaan/ penatausahaan, dan pemantauan Obligasi Daerah dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang undangan di bidang Pasar Modal. |
|
Pasal 30 |
| (1) |
Pemerintah Daerah dapat membeli kembali Obligasi Daerah yang diterbitkannya. |
| (2) |
Obligasi Daerah yang dibeli kembali dapat diperlakukan sebagai pelunasan atas Obligasi Daerah tersebut, atau disimpan untuk dapat dijual kembali (treasury bonds). |
|
Penjelasan: |
|
| (3) |
Dalam hal Obligasi Daerah yang dibeli kembali diperhitungkan sebagai treasury bonds, maka hak-hak yang melekat pada Obligasi Daerah batal demi hukum. |
|
Penjelasan: |
|
Bagian Ketiga |
|
Kewajiban |
|
Pasal 31 |
| (1) |
Pemerintah Daerah wajib membayar pokok dan bunga setiap Obligasi Daerah pada saat jatuh tempo serta denda atas Obligasi Daerah. |
| (2) |
Pembayaran sebagaimana dimaksud ayat (1) dianggarkan dalam APBD yang dananya dari pendapatan daerah yang berasal dari penerimaan proyek yang didanai dengan Obligasi Daerah maupun pendapatan Daerah lainnya. |
|
Penjelasan: |
|
| (3) |
Dana untuk membayar pokok dan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggarkan dalam APBD setiap tahun sampai dengan berakhirnya kewajiban tersebut. |
|
Penjelasan: |
|
|
Perkiraan dana yang perlu dialokasikan untuk pembayaran kewajiban untuk satu tahun anggaran disampaikan kepada DPRD untuk diperhitungkan dalam APBD tahun yang bersangkutan. |
|
| (4) |
Dalam hal pembayaran bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melebihi perkiraan, Kepala Daerah melakukan pembayaran dan menyampaikan realisasi pembayaran tersebut kepada DPRD dalam pembahasan Perubahan APBD. |
|
Penjelasan: |
|
| (5) |
Dalam hal proyek belum menghasilkan dana yang cukup untuk membayar pokok, bunga dan denda Obligasi Daerah terkait, maka pembayaran tersebut dibayarkan dari APBD. |
|
Bagian Keempat |
|
Pengelolaan Obligasi Daerah |
|
Pasal 32 |
| (1) |
Pengelolaan Obligasi Daerah diselenggarakan oleh Kepala Daerah. |
|
Penjelasan: |
|
| (2) |
Kepala Daerah dapat membentuk satuan kerja untuk mengelola Obligasi Daerah. |
|
Pasal 33 |
| Pengelolaan Obligasi Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi: |
| a. | penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan Obligasi Daerah termasuk kebijakan pengendalian risiko; |
|
Penjelasan: |
|
| b. |
perencanaan dan penetapan struktur portofolio Pinjaman Daerah; |
| c. | penerbitan Obligasi Daerah; |
| d. | penjualan Obligasi Daerah melalui lelang; |
|
Penjelasan: |
|
|
Selanjutnya, dalam hal Daerah bermaksud untuk membeli kembali (buy back) Obligasi Daerah yang diterbitkannya atau menjual kembali atas Obligasi Daerah yang dibeli kembali dimaksud, maka Daerah dapat melakukan pembelian kembali atau penjualan kembali Obligasi Daerah tersebut melalui lelang. |
|
| e. | pembelian kembali Obligasi Daerah sebelum jatuh tempo; |
| f. | pelunasan pada saat jatuh tempo; dan |
| g. | pertanggungjawaban. |
|
Bagian Kelima |
|
Akuntabilitas dan Transparansi |
|
Pasal 34 |
| (1) |
Kepala Daerah wajib menyelenggarakan dan membuat pertanggungjawaban atas pengelolaan Obligasi Daerah serta dana hasil penerbitan Obligasi Daerah. |
| (2) |
Pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada DPRD sebagai bagian dari pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. |
|
Pasal 35 |
|
Kepala Daerah wajib mempublikasikan secara berkala informasi tentang: |
| a. |
kebijakan pengelolaan Pinjaman Daerah dan rencana penerbitan Obligasi Daerah yang meliputi perkiraan jumlah dan jadwal waktu penerbitan; |
| b. |
jumlah Obligasi Daerah yang beredar beserta komposisinya, struktur jatuh tempo dan tingkat bunga; |
| c. | laporan keuangan Pemerintah Daerah; |
| d. |
laporan penggunaan dana yang diperoleh melalui penerbitan Obligasi Daerah, alokasi dana cadangan, serta laporan-laporan lain yang bersifat material; dan |
| e. |
kewajiban publikasi data dan/atau informasi lainnya yang diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal. |
|
Penjelasan: |
|
|
Program tersebut khususnya dilakukan dalam rangka penerbitan Obligasi Daerah yang dimaksudkan untuk pembentukan tolok ukur harga aset keuangan. Adanya hal tersebut akan memberikan kesempatan kepada para pemodal untuk menyusun strategi penawaran (bidding), menentukan jumlah persediaan Obligasi Daerah dalam portofolio, dan merencanakan penjualan/ pelepasan Obligasi Daerah yang saat ini berada dalam portofolio mereka. |
|
|
Bilamana pelaku pasar sudah mengetahui jadwal penerbitan dimaksud, gangguan potensial yang terjadi di pasar dapat dihindari. |
|
Pasal 36 |
|
Tata cara penerbitan, pertanggungjawaban, serta publikasi informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 35 dan Pasal 36 diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan dan dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. |