|
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA |
| TENTANG |
| SURAT UTANG NEGARA |
|
BAB IV |
|
Pasal 5 |
| 1. |
Kewenangan menerbitkan Surat Utang Negara untuk tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 berada pada Pemerintah. |
| 2. |
Kewenangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksana-kan oleh Menteri. |
|
Pasal 6 |
|
Dalam hal Pemerintah akan menerbitkan Surat Utang Negara untuk tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Menteri terlebih dahulu berkonsultasi dengan Bank Indonesia. |
|
Penjelasan: |
| Pasal 7 |
| 1. |
Penerbitan Surat Utang Negara harus terlebih dahulu mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. |
||||
|
Penjelasan: |
|||||
| 2. |
Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan atas nilai bersih maksimal Surat Utang Negara yang akan diterbitkan dalam satu tahun anggaran. |
||||
|
Penjelasan: |
|||||
| 3. |
Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diberikan pada saat pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. |
||||
|
Penjelasan: |
|||||
| 4. |
Dalam hal-hal tertentu, Menteri dapat menerbitkan Surat Utang Negara melebihi nilai bersih maksimal yang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) setelah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Dewan Perwakilan Rakyat dan dilaporkan sebagai Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang bersangkutan. |
||||
|
Penjelasan: Yang dimaksud dengan hal-hal tertentu adalah mencakup hal-hal sebagai berikut: |
|||||
|
| Pasal 8 |
| 1. |
Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat mengenai penerbitan Surat Utang Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) meliputi pembayaran semua kewajiban bunga dan pokok yang timbul sebagai akibat penerbitan Surat Utang Negara dimaksud. |
| 2. |
Pemerintah wajib membayar bunga dan pokok setiap Surat Utang Negara pada saat jatuh tempo. |
| 3. |
Dana untuk membayar bunga dan pokok sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) disediakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara setiap tahun sampai dengan berakhirnya kewajiban tersebut. |
|
Penjelasan: |
|
| 4. |
Dalam hal pembayaran kewajiban bunga dan pokok dimaksud melebihi perkiraan dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), Menteri melakukan pembayaran dan menyampaikan realisasi pembayaran tersebut kepada Dewan Perwakilan Rakyat dalam pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. |
|
Penjelasan: |